Dalam suatu perjalanan terkadang kita dihadapkan pada suatu keadaan
yang mengharuskan untuk menaksir terdahulu kondisi medan yang akam
dihadapi. Maksudnya agar melewati medan tersebut kita tidak terjebak
dalam kesulitan. Misalnya menyeberangi sungai, kita harus menaksirkan
lebar sungai, kedalaman serta kecepatan arusnya. Peramalan bentuk awan,
suara debur pantai, bau-bauan yang berbahaya. Hasilnya penaksiran yang
didapat tentu saja tidak tepat benar, ketelitian hasil penaksiran akan
tergantung dari kecermatan dan ketelitian.
2.1 Dasar – Dasar Ilmu Medan
Ilmu medan yang sebenarnya, terdiri dari 4 bagian yaitu : geografi, morfologi, hidrografi dan topografi.
Geografi : Istilah geografi pertama kali dikemukakan oleh Eratothenes
(176:194 sm). Kata geografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu geo dan
graphien.Geo berarti bumi dan graphien berarti sesuatu yang ditulis,
digambar, atau dijelaskan. Jadi Geografi berarti Ilmu pengetahuan yang
mempelajari, menjelaskan, menuliskan tentang bumi.
Morfologi : nama morfologi dipakai oleh berbagai cabang ilmu. Secara
harafiah, morfologi berarti ‘pengetahuan tentang bentuk (morphos)’.
Berikut beberapa ilmu yang menggunakan nama morfologi:
Biologi:
morfologi adalah ilmu tentang bentuk organisme, terutama hewan dan
tumbuhan dan mencakup bagian-bagiannya. Biasanya diberi keterangan di
belakangnya, seperti morfologi serangga.
Geologi: morfologi adalah ilmu tentang batuan dan bentuk luar bumi. Biasanya disebut pula geomorfologi.
Hidrografi
: Hidrografi (atau geodesi kelautan menurut pandangan awam) adalah ilmu
tentang pemetaan laut dan pesisir. Hidrografi menurut International
Hydrographic Organization (IHO) adalah ilmu tentang pengukuran dan
penggambaran parameter-parameter yang diperlukan untuk menjelaskan
sifat-sifat dan konfigurasi dasar laut secara tepat, hubungan
geografisnya dengan daratan, serta karakteristik – karakteristik dan
dinamika-dinamika lautan. Secara etimologi, Hidrografi berasal dari
bahasa Yunani yang terdiri dari kata “hidro” yang berarti air dan
“grafi” yang berarti menulis, hidrografi artinya gambaran permukaan bumi
yang digenangi air.
Topografi : Dalam pengertian yang lebih luas, topografi tidak hanya
mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasi dan pengaruh
manusia terhadap lingkungan, dan bahkan kebudayaan lokal. Topografi
umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan
identifikasi jenis lahan. Penggunaan kata topografi dimulai sejak zaman
Yunani kuno dan berlanjut hingga Romawi kuno, sebagai detail dari suatu
tempat. Kata itu datang dari kata Yunani, topos yang berarti tempat, dan
graphia yang berarti tulisan. Objek dari topografi adalah mengenai
posisi suatu bagian dan secara umum menunjuk pada koordinat secara
horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan secara vertikal
yaitu ketinggian.
Ilmu membayangkan medan (topografi praktis) adalah
ilmu yang mempelajari tentang penggunaan alat untuk mendapatkan bayangan
yang jelas tentang suatu medan. Terbagi menjadi : cara penggunaan peta
topografi dan uraian mengenai medan.
Ilmu Pengintaian adalah ilmu
yang mempelajari bagaimana cara yang terbaik untuk melakukan pengintaian
suatu medan untuk keperluan tugasnya.
2.2 Tanda – Tanda dan Klasifikasi Medan
Tanda medan terdiri dari tanda medan dari alam, tanda yang di buat manusia dan titik tanda.
Tanda medan dari alam : gunung, danau, bukit, dll.
Tanda medan yang dibuat oleh manusia : jembatan, rumah, bendungan, dll.
Titik tanda : berupa tanda yang paling mencolok, seperti tower.
Klasifikasi medan terdiri dari dataran rendah, dataran tinggi, gir gunung, lembah, hutan, rimba dan rawa.
a.
Dataran rendah : Dataran rendah adalah tanah yang keadaannya relatif
datar dan luas sampai ketinggian sekitar 200 m dari permukaan laut.
b.
Dataran tinggi : Dataran tinggi adalah dataran luas yang letaknya di
daerah tinggi atau pegunungan yang ketinggiannya +200 m dari permukaan
laut.
c. Gir gunung : gir gunung adalah dataran yang menghubungkan gunung gunung.
d. Lembah : Lembah adalah dataran rendah yang dikelilingi oleh dataran tinggi.
e. Hutan : Hutan adalah dataran yang terdiri dari tumbuhan dan pepohonan dan sudah pernah dimasuki oleh manusia.
f.
Rimba : Rimba adalah dataran yang terdiri dari tumbuhan dan pepohonan
dan belum pernah dimasuki oleh manusia, sehingga keasliannya masih
terjaga.
g. Rawa : rawa adalah semua macam tanah berlumpur yang
terbuat secara alami, atau buatan manusia dengan mencampurkan air tawar
dan air laut, secara permanen atau sementara, termasuk daerah laut yang
dalam airnya kurang dari 6 m pada saat air surut.
2.3 Hal – Hal Yang Harus Diperhatikan Di Dalam ORMED
Pengaruh
topografi antara lain : bentuk permukaan dan perairan, tumbuh-tumbuhan,
keadaan tanah dan benda-benda buatan yang ada di medan.
Pengetahuan dan keterampilan
Iklim dan cuaca.
2.4 Penaksiran
Penaksiran
adalah suatu proses untuk mengetahui keadaan di alam melalui panca
indra, anggota tubuh dan sesekali dengan bantuan alat serta dipengaruhi
oleh pengalaman.
1. Panca Indera
a. Rasa tawar membedakan manis, asam, kecut, atau kombinasi ( tawar, payau, asin, dan asam )
b.
Cium yang mendeteksi sejumlah wewangian seperti : harum, busuk, tengik,
anyir, atau kombinasinya ( ular, macan, babi, pantai, mayat, dll ).
c. Dengan yang mengartikan dengungan suara yang tidak dapat terjangkau oleh telinga ( ombak, suara air terjun, riam, dll ).
d. Raba yang mengartikan sentuhan – sentuhan kulit terhadap alam sekitar ( dingin, kasar, halus, atau kombinasinya ).
e. Lihat yang mengartikan cahaya dari sumber cahaya tersebut ( siluet, awan, gerakan air ).
2. Anggota Tubuh
a. Bagian – bagian tubuh sendiri
b. Benda – benda yang dibawa dalam perjalanan : ukuran sinyal, sabuk dan lainnya.
c. Hal – hal lain yang dapat dijadikan standar : jarak tiang listrik, jarak tanaman karet, dan lain – lain.
3. Pengalaman
Makin
sering kita memakai penaksiran selama di medan kita akan mempunyai
semacam “sense”. Contohnya bila sudah biasa di tebing, tidak perlu
menaksir lagi dengan bantuan tinggi badan. Sudah terbayang di pikiran
dan rasa : 100 meter begitu saja.
Dari pengalaman, yang paling berguna adalah :
a. Jumlah langkah biasa dalam 10 m : penaksiran jarak yang paling panjang dan lebar.
b. Jarak jengkal : penaksiran panjang sebuah ranting, tali, bunga.
c. Panjang telapak kaki : penaksiran jarak yang pendek.
d. Tinggi badan : penaksiran tinggi.
e. Berat badan : penaksiran berat belakang
4. Alat Bantu Minimal
Alat
Bantu ini adalah yang “instant” tersedia dikala itu. Kiat penaksiran
adalah mau berpikir dua kali dari sudut pandang yang berbeda. Agar hasil
penaksiran mendekati keakuratan.
2.5 Macam – Macam Penaksiran.
Menaksir lebar sungai
Menaksir kedalaman sungai
Menaksir kecepatan arus sungai
Menaksir ketinggian
Penaksiran waktu
Penaksiran jarak
Penaksiran cuaca
2.6 Teknik Penaksiran
1. Menaksir lebar sungai
a. Lebar sungai tenang atau danau
Caranya :
§ Jatuhkan benda berat ( misalnya batu ) ke air.
§ Perhatikan riak air yang menuju titik C, perhatikan titik B yaitu riak yang sama saat riak air menyentuh titik C.
§ Ukur jarak AB. Lebar sungai AB.
Gambar 2.6.a. Mengukur Lebar Sungai/Danau dengan menggunakan prinsip lingkaran
b. Lebar Sungai selain cara I
1) Ukur lebar sungai dengan bantuan topi. Caranya :
§ Atur posisi ujung topi sehingga mata dapat melihat titik C ( di seberang sungai ).
§ Putarlah kepala kita sehingga titik D akan satu garis dengan titik B. Titik B harus tepat di tepi sungai.
§ Ukur jarak AB. Lebar sungai = AB.
Gambar 2.6.b. Mengukur Lebar Sungai dengan menggunakan topi sebagai titik ikat
2) Mengukur lebar sungai dengan ilmu ukur segitiga, caranya :
§ Tentukan titik X yang dapat di tandai di seberang.
§ Tentukan titik A di pinggir kita berada ( tempat berseberangan dengan X ).
§ Berjalan sepanjang pinggir sungai ( lurus ) sejauh AB ( bebas jauhnya ). Pada titik B.
§ Barjalan lagi sejauh BC. Jarak BC = AB.
§ Berjalan arah CD ( tegak lurus AC ), sampai titik – titik D, B, X terhubungkan dengan garis lurus.
§ Ukur panjang CD. Lebar sungai = CD.
Gambar 2.6.c. Mengukur Lebar Sungai dengan menggunakan prinsip segitiga siku – siku
2. Menaksir Tinggi Permukaan Sungai
a. Batang – ranting
Cara memakainya untuk mengukur ke dalam / tinggi relatif air sungai adalah :
§ Ambil ranting yang cukup panjang.
§ Masukkan galah tersebut ke dalam sungai, usahakan galah tegak lurus terhadap permukaan sungai.
§ Lakukanlah pengukuran di berbai tempat.
Kegunaan :
1)
Memperkirakan dalamnya sungai, karena sungai bagian tengahnya lebih
dalam dari bagian tepinya, maka pengukuran berbahaya dilakukan.
2)
Memperkirakan tinggi relatif ( perbandingan tinggi air sejam yang lalu,
diberi tanda, oleh goresan ditancapkan, digantung. Kemudian kita bisa
lihat apakah turun atau naik kecenderungan dari sungai ini.
Gambar 2.6.d. Mengukur kedalaman dengan kayu di Hilir / Muara sungai
Gambar 2.6.e. Mengukur kedalaman deagan kayu di Hulu sungai
b. Riam
Dengan memperhatikan bentuk riam, kita dapat menduga bagian sungai yang lebih dalam dibandingkan dengan yang lainnya.
§ Gelombang tegak : adalah sungai yang terdalam dan tercepat dibandingkan dengan bagian sungai sekitarnya.
§ Bagian luar kelokan sungai adalah bagian sungai yang lebih dalam.
§
Bagian ujung lancip dari lidah air ( bentuk V ) adalah bagian yang
lebih dalam dibandingkan dengan ujung dari lidah di atasnya.
Gambar 2.6.f. Riak Air
3. Menaksir kecepatan Arus Sungai
a. Cara I
§ Letakkan benda terapung di titik 0 ( benda akan hanyut )
§ Setelah sekitar 15 meter ( dari titik A ), mulailah berjalan mengikuti benda tadi, sambil menghitung waktu sampai titik B.
§ Ukur jarak AB.
§ Kecepatan arus sungai = jarak AB / waktu.
Gambar 2.6.g. Mengukur Kecepatan Arus Sungai
b. Cara II
§ Letakkan benda terapung di titik O ( benda akan hanyut ).
§
Setelah sekitar 15 meter ( dari titik A ), mulailah berjalan mengikuti
benda tadi sekitar 50 langkah ( langkah biasa yang kecepatannya dapat
diperkirakan ).
§ Setelah sampai di titik B, misalnya benda sampai di X.
§ Ukur jarak AB dan AX.
§ Kecepatan arus sungai = AX x Kecepatan langkah.
Gambar 2.6.h. Mengukur Kecepatan Arus Sungai
Catatan :
§ Benda terapung yang dihanyutkan sedapat mungkin hanyut mendekati bagian tengah sungai ( antara dua tepi sungai ).
§
Sebenarnya kecepatan yang paling besar terjadi di tengah sungai ( jika
sungai lurus ) dan kecepatan paling kecil di pinggir sungai.
4. Menaksir Tinggi
a. Tinggi pohon dengan bayang – bayang
Caranya :
§ Kita berdiri di samping pohon ( A ).
§ Perhatikan ujung bayangan pohon ( C ).
§ Ukur AB dan BC.
§ Tinggi pohon = AC / AB x tinggi badan kita.
Gambar 2.6.i. Mengukur Tinggi Pohon dengan Bayangan
b. Tinggi Tebing, Pohon, Dengan Dua Orang
§
Pengamat mencari posisi jongkok, sehingga ujung kepala rekannya dan
titik X ( puncak pohon, tebing ) berada pada satu garis lurus.
§ Ukur AB = AC.
§ T1 = Tinggi jongkok pengamat ( jarak mata ke tanah ).
§ T2 = Tinggi badan rekannya ( bisa diganti tongkat atau lainnya ).
§ Tinggi, T = AC / BA x ( T1 – T2 ) + T2
Gambar 2.6.J. Mengukur Tinggi Tebing/Pohon Dengan Dua Orang
5. Penaksiran Waktu
Dapat
dipergunakan Nasmitths Rule ( aturan Naismiths ). Cara tesebut
merupakan cara klasik dalam memperkirakan waktu tempuh. Menurut aturan
ini, kecepatan rata – rata orang berjalan di medan horizontal adalah 5
km / jam dan setiap kenaikan 300 m ditambah 0,5 m. Untuk kecepatan turun
digunakan rumus : setiap penurunan 300 m, waktu ditempuh 5 km / jam
ditambah 10 menit.
Contohnya :
Jika direncanakan perjalanan sejauh 10 km dengan pertambahan kenaikan vertical 600 m, maka waktu tempuh kita adalah :
10 km+600 m x ( 0,5 jam ) = 3 jam
5 km / jam 300 m
Catatan
: Perhitungan tersebut hanya berlaku pada medan tidak bersemak. Selain
tempuh akan bervariasi bergantung pada hal – hal : keadaan fisik, beban
yang dibawa, keadaan lintasan ( berpasir, tanah keras, bersalju dan lain
– lain ), kondisi cuaca.
6. Penaksiran Jarak
Untuk memperkirakan jarak suatu medan dapat digunakan :
§ Asap putih = 19,2 km
§ Cahaya senter = 3,2 km
7. Penaksiran Cahaya
Seorang
pendaki gunung harus dapat membaca tanda – tanda cuaca, terutama saat
melakukan perjalanan. Tanda – tanda cuaca tersebut di antaranya :
a. Tanda Umum
1. Cuaca Baik
· Merah pada waktu malam hari
· Embun dan kabut pada pagi-pagi benar.
· Matahari terbit berwarn merah.
· Bintang-bintang dilangit terang sekali
· Bulan kelihatan terang dan bersinar
2. Cuaca Kurang Baik
· Kuning pucat pada waktu matahari terbenam
· Awan gelap dan tergantung rendah
· Pagi hari dan keliling bulan diliputi awan gelap banyak angin atau badai
3. Banyak Angin atau Badai
· Awan bergerak terang dengan garis-garis yang terang
· Ada hujan sebelum angin
· Matahari terbit dari balik awan
· Matahari terbenam warnanya merah
4. Perkiraan Cuaca
· Awan bergerak melawan angin
· Bulan dikelilingi bundaran
· Banyak angin sebelum hujan, tanda tidak hujan
· Bayang-bayang tempat lurus ke timur barat (daerah khatulistiwa)
· Pagi udara panas sekali, siangnya hujan disertai angina
b. Tanda-Tanda Dengan Binatang
1. Saat Pergantian Cuaca
· Burung layang-layang : Terbang sangat tinggi
· Kelalawar : Terbang sampai senja
· Laba-laba : Rajin membuat jaringnya
· Semut : Keluar dari sarangnya
· Lebah : Terbang jauh ihingga sarangnya kosong
· Nyamuk : Waktu senja terbang kian kemari
2. Saat Hujan Akan Turun
· Burung : Terbang rendah sekali
· Laba-laba : Bersembunyi
· Semut : Merayap dengan cepat
· Katak : Diam dalam air
· Ikan : Melompat di atas air
· Kucing : Duduk membelakangi api
· Burung Laut : Beterbangan menuju darat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar